Tak sedikit diantara kita merasa menderita ketika padam listrik. Keluh dan kata-kata kekesalan kerap terlempar sebagai ungkapan derita tersebut. Realita padamnya listrik memang mengganggu sebagian eksistensi kehidupan kita, gelap gulita, sulit air, akses internet terganggu, hp lowbath, dan seabrek lainnya.
Tetapi, seabrek masalah tersebut adalah setitik siksa yang kita rasakan didunia bila dibanding sisksa di akhirat kelak. Lalu mengapa kita terlalu lupa dengan sisksa akhirat kelak? Kita tak pernah berkeluh dan kecewa tatkala jauh dari ibadah dan merasa aman atas maksiat kita di dunia, padahal Allah Ta'ala telah menyiapkan berbagai siksa untuk hambanya yang durhaka dan pembangkang.
Tetapi, seabrek masalah tersebut adalah setitik siksa yang kita rasakan didunia bila dibanding sisksa di akhirat kelak. Lalu mengapa kita terlalu lupa dengan sisksa akhirat kelak? Kita tak pernah berkeluh dan kecewa tatkala jauh dari ibadah dan merasa aman atas maksiat kita di dunia, padahal Allah Ta'ala telah menyiapkan berbagai siksa untuk hambanya yang durhaka dan pembangkang.
Gelapnya padam listrik, tak segelap alam barzakh (kubur), dan sulitnya air saat padam listrik tak sesulit siksa neraka jahannam yang hidangan minumnya adalah nanah membusuk dan air panas mendidih dengan api neraka (hamim).
Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa seorang wanita hitam -atau seorang pemuda- biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapatinya sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakannya. Para sahabat menjawab, ‘Dia telah meninggal’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?’ Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya kepadaku’. Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyinarinya bagi mereka dengan shalatku terhadap mereka.” [HR. Bukhari, Muslim, dll]
“Dan diberi minum dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya,” (Qs. Muhammad:15)
Lalu siapakah sicerdas itu? cerdas bukan hanya seorang yang memiliki intelektualitas tinggi dengan setumpuk karya ilmiah, atau bukan hanya seorang bergelar akademik mentereng dengan gelar kebanggannya. Si cerdas sebagaimana yang Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sabdakan adalah:
“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang yang berakal.”
Jadi sicerdas adalah seorang yang meanseatnya melampaui batas alam dunia dan materi, serta dapat membandingkan fananya fenomena di dunia dengan kekekalan alam akhirat, sehingga setiap kejadian didunia menjadi ibrah (pembelajaran) baginya. Pada akhirnya sicerdas berkesimpulan "siksa NYA kelak diakhirat melebihi siksa padamnya liatrik di dunia".
Wallahu Bit Taufiiq
@robby

0 komentar:
Posting Komentar